Senin, 10 Juni 2013

Batal Umroh Berangkat Haji

Ustadz Rachman Gayo, sahabat saya dari Aceh yang sudah puluhan tahun mengabdi di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Waktu itu ia menjadi kepala sekretariat masjid. Walau harus menglaju dari rumahnya di daerah Bekasi, Jawa Barat, Ustadz Rahman selalu berusaha memberikan layanan terbaik untuk kenyamanan beribadah jamaah. Saya mengenal beliau sebagai orang yang tulus dan juga gigih.

Dalam catatan dan jadwal pemberangkatan umroh tahunan Masjid Agung Al-Azhar, nama beliau tercantum sebagai salah satu calon tour leader. Tentu itu membuat hatinya sumringah, karena ke Mekah adalah impian semua Muslim, termasuk Ustadz Rachman.

Jadwal sudah di tangan, ilmu tata cara umroh sudah di luar kepala, maka beliau tinggal menunggu hari keberangkatan.

Sayangnya, di hari pemberangkatan, jamaah yang mengikuti ternyata tidak terlalu banyak. Tidak mencapai kuota minimum jumlah peserta satu angkatan. Maka, jamaah yang sudah mendaftarkan kemudian digabungkan dengan jamaah umroh jadwal keberangkatan berikutnya.

Tentu karena jamaah umroh yang terjadwal tidak berangkat, maka Ustadz Rachman pun tidak jadi berangkat ke Tanah Suci. Padahal, keinginan beliau ke Baitullah begitu membara, terlebih ia memang belum pernah ke sana.

Beliau sangat berharap bisa berangkat sesuai jadwal, doa terus dipanjatkan agar Allah mudahkan dirinya bisa mencium ka’bah dan ziarah ke makam Rasulullah SAW.

Itulah rencana manusia, jadwal yang sudah tersusun rapi tetap semua menjadi urusan Allah, berangkat atau tidak adalah urusan Allah. Jika Allah mudahkan maka dimudakan, jika Allah tunda maka akan tertunda. Secara hitungan diatas kertas jadwal sudah didepan mata, pelatihan menjadi tour leader sudah didapat, tata cara umroh sudah diluar kepala, namun semua masih rahasia Allah. Tugas manusia hanyalah ikhtiar, Allah yang menentukan segalanya.

Karena jamaah digabung dengan pemberangkatan berikutnya, maka sebagai calon tour leader harus ikhlas untuk tidak jadi berangkat karena jadwal keberangkatan berikutnya sudah ada pembimbing dan tour leadernya, dan jadwal tetap berlaku sesuai dengan yang sudah tertulis.

Alhamdulillah, saya mengenal Ustadz Rachman orang yang tulus dan memahami kondisi bahkan ikhlas karena Allah, karena yang berhak memberangkatkan ke tanah suci bukan siapa-siapa, bukan juga pengurus yayasan akan tetapi Allah lah yang maha memberangkatkan ke tanah suci. Keyakinan itu begitu menghujam dalam diri Ustadz Rachman.

Bulan demi bulan berlalu, sampai batas akhir pelaksanaan umroh selesai yaitu di bulan Ramadhan. Beliau hanya bisa menitipkan doa kepada sahabat-sahabatnya yang berangkat ke baitullah agar suatu saat nanti Allah akan memberangkatkannya.

Ba’da Ramadhan sudah tidak ada lagi pemberangkatan umroh karena oleh pemerintahan Arab Saudi digunakan sebagai persiapan menyambut bulan Haji.  Maka sampai ramadhan pun Ustadz Rachman tidak jadi berangkat umroh. Beliau menerima takdir ini, dan terus mensyukuri nikmat-nikmat Allah lainnya yang telah dianugerahkan kepadanya.

Hingga suatu hari, datang surat undangan yang ditujukan kepada pengurus Masjid Agung Al-Azhar yang berisi undangan menjadi tamu Allah (berangkat haji) sekaligus menjadi tamu kehormatan kerajaan Arab Saudi.

Pengurus Masjid menggelar rapat, siapa kira-kira yang akan diberangkatkan ke tanah suci sebagai tamu undangan dari Kerajaan Arab Saudi ini. Atas izin Allah dan didasarkan berbagai pertimbangan bahwa pengurus-pengurus lainnya sudah pernah ke tanah suci, maka terpilih nama Ustadz Abdul Ranchman Gayo yang ditunjuk mewakili Al-Azhar memenuhi undangan berangkat Haji sekaligus jadi tamu kehormatan dari kerajaan.

Subhanallah, ternyata Allah membayar keikhlasan Ustadz Rachman batal umroh dan malah diganti dengan berangkat Haji, bahkan berangkatnya tahun itu juga. Begitu mudahnya jika Allah berkehendak, padahal jika mendaftarkan haji regular butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu giliran, bahkan harus mengeluarkan biaya dimuka. Ustadz Rachman berangkat ke tanah suci bukan untuk umroh akan tetapi langsung Haji bahkan menjadi tamu kehormatan dari kerajaan Arab Saudi. Subhanallah. Jika bukan Allah yang mengatur ini semua, maka tidak akan terjadi kisah ini.

Semoga menjadi inspirasi buat kita semua, pesan saya kepada para perindu baitullah untuk menguatkan niat untuk berangkat ke tanah suci, ikhtiar semaksimal kita mampu, sabar dan tawakkal kepada Allah, maka Allah akan menyempurnakannya.  Saya yakin keajaiban ini juga bisa terjadi kepada Anda semua. Insya Allah.

0 komentar:

Posting Komentar