Jumat, 04 Januari 2013

Mama.. Fatih Nyuci Sendiri


Mas Fatih bajunya sudah dibawa keLaundri…?

Nggak Mah, nggak dibawa ke Laundry,
Kenapa?

Fatih nyuci sendiri mah….

Masya Allah anak mama hebat bisa nyuci sendiri
Hebat hebat hebat..

Kenapa nyuci sendiri?

Soalnya temen Fatih semuanya pada nyuci sendiri, jadi ya Fatih nyuci sendiri juga

Subhanallah.. hebat hebat..

Dari pertama masuk pesantren kami menyadari bahwa ini adalah proses belajar yang membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi menjalani kehidupan mandiri. Kami pun tidak langsung menugaskan Fatih untuk langsung bisa mandiri, karena kehidupan sebelumnya kami punya bibi untuk membantu apapun yang menjadi kebutuhannya. Mulai dari bangun tidur sudah ada yang bangunin, nanti dipesantren harus bisa bangun sendiri atau jika dibangunin harus segera bangun, jika tidak bisa maka akan mendapat hukuman atau bisa saja dibentak atau dimarahi. Mandi pun akan minta disiapkan handuk dan peralatan lainnya, nyiapin seragam untuk sekolah pun juga selama ini kebiasaaanya disiapkan oleh bibi. Namun di pesantren tidak bisa begitu, semua harus mandiri harus belajar terus menerus, bahkan bukan hanya belajar agama, quran hadits, atau pelajaran lainnya akan tetapi belajar HIDUP, belajar hidup mandiri, mengatur waktu memenejemeni waktu, diri dan semua yang terkait dengan kehidupan sehari hari.

Bahkan urusan uang saku juga harus bisa mengatur agar bisa sampai akhir bulan sebelum dikirimin lagi. Dihari pertama kedua dan ketiga Fatih memang masih sering nelpon, sehari bisa sampe 3 x. Hari pertama yang paling sering bisa sampe 3x nelpon, hari kedua sudah berkurang menjadi 2 x, dan hari ke 3 Fatih pun masih nelpon :

Mama, apa kabarnya.. Alhamdulillah Fatih sudah dapet temen

Alhamdulillah.. Oya mas Fatih udah 3 hari pasti sudah ada baju kotornya ya.. dibawa ke laundry aja ya
Nggak mah, fatih nggak bawa baju kotor ke laundry. Tapi Fatih nyuci sendiri…

Masya Allah kalimat dari ujung telp itu membuat kami menangis haru, karena selama ini Fatih tidak pernah nyuci karena ada bibi yang menyucikan bajunya. Namun hari itu seperti kejatuhan emas karena Fatih bilang bisa nyuci sendiri bahkan nggak mau laudnry… Subhanallah…

Mas fatih mama bangga sama Fatih.. Anak mama hebat (puji mamahnya diujung telpon). Tapi ngomong-ngomong kenapa nggak dibawa ke laundry mas?

Soalnya temen temen Fatih pada nyuci sendiri, jadi ya Fatih nyuci sendiri deh, serru mah bareng sama temen temen lainnya.

Masya Allah… Subahanllah… hebat hebat, mamanya memberi semangat.

Saya yang mendengarkan juga turut bangga bahkan nggak sengaja air mata pun menetes tanda bangga, bahkan saya berucap.

Pelajaran ini belum tentu ada saat Fatih masih dirumah, namun dengan nyantren kehidupan harus berubah. Inilah Belajar hidup sesungguhnya.

Terima kasih pesantren yang telah mendidik anak-anak menjadi mandiri, kekhawatiran orang tua dan cenderung berlebihan akan menjadi penghambat kemandirian anak. Maka disaat anak disekolahkan di pesantren banyak sekali pembelajaran penting dalam kehidupan ini yang akan mereka pelajari. Sekali lagi bukan hanya pelajaran formal dan agama akan tetapi belajar hidup sesungguhnya.

Di Pesantren Daarul Qur’an saya melihat banyak sekali orang tua santri yang terlalu khawatir dengan sistem atau sarana prasara padahal mereka sedang belajar hidup sesungguhhnya. Pasrahkan saja, doakan saja mereka agar mereke bisa menuntut ilmu dengan sebaik baiknya. Insya Allah.

2 komentar:

Catatan Nurbaiti mengatakan...

aamiin yaa allah.semoga niat orangtua u/ mndidik anak2'a dpt tercapai dgn baik. tak dapat dipungkiri bahwa kekhawatiran dan protes orang tua itu sering kali menghambat proses dan sistem belajar anak2 di asrama/pesantren. terutama pembelajaran u/ hal kemandirian atau tntg bgmn anak mnyikapi kehidupannya.

Nenk Choemiezt mengatakan...

mantaph tadz, tapi ustadz kan direktur yayasan Daqu, kenapa anaknya tidak mondok di daqu??

Posting Komentar