Kamis, 11 Oktober 2012

Uang Angin Pak Bejo


Musim kemarau tiba, anak-anak ingin main sepeda. Maka, sore itu saya keluarkan sepeda mereka yang sudah nganggur di gudang selama beberapa bulan terakhir. Kedua sepeda kempes bannya, mesti dibawa ke bengkel dulu.
‘’Mau dibawa ke mana, Pak?’’ tanya tetangga sebelah, melihat saya hendak menuntun sepeda Saffana sambil naik motor.
‘’Ini Pak, mau benerin ban sepeda,’’ jawab saya.
‘’O, saya punya pompa Pak, kalau cuman kempes dipompa aja,’’ tetangga menawarkan budi baik.
‘’Kayaknya nggak cuman kempes nih, soalnya pernah dipompa terus kempes lagi,’’ sahut saya, sambil menuntun sepeda dengan tangan kiri dan mengendarai motor dengan tangan kanan.
Saffana masih sempat bertanya, ‘’Saffana nggak ikut Pah?’’
‘’Nggak usah, Papa bawa sepeda nih, biar nggak berat,’’ kata saya.
‘’Emang bisa Pah, naik motor sambil bawa sepeda?’’ celoteh dia.
‘’Insya Allah, dulu kan Papa sering begini.’’
 ‘’Ati-ati ya Pah.’’
‘’Siaaap.’’
Maka, berangkatlah saya ke bengkel di dekat gerbang perumahan. Awalnya terasa berat, naik motor sambil nuntun sepeda. Soalnya, sudah lama nggak pernah membawa sepeda dengan cara ndeso seperti ini. Dulu sih, sering menggowes sepeda sambil menuntun sepeda satu lagi yang bocor bannya untuk ditambal di bengkel.
Setelah berkendara sekitar 500 meter dari rumah, sampailah saya di tukang tambal ban sekaligus reparasi sepeda. Tampak di depan kios kecilnya, berderet sejumlah sepeda bekas yang hendak dijual.
‘’Permisi, Pak,’’ salam saya pada tukang bengkel.
‘’O ya,  bisa dibantu,’’ sahut pria berpenampilan sederhana itu ramah.
‘’Ini, mau benerin ban, udah lama nggak dipake, jadi kempes. Kira-kira bannya bocor nggak ya Pak?’’ saya menerangkan.
Si Bapak melihat-lihat sekilas ban sepeda Saffana. ‘’Oh,’’ katanya, ‘’ini mah nggak bocor, cuman kempes aja.’’
‘’Tapi udah lama Pak nggak dipake, mungkin bocor. Soalnya, dulu juga pernah dipompa terus kempes lagi.’’
‘’Udah lebih dari 2 bulan belum, nggak dipakainya?’’
‘’Lebih, Pak.’’
‘’Kalau gitu, saya bisa pastikan kalau bannya nggak bocor. Soalnya nggak kempes banget nih, masih ada anginnya dikit. Kalau bocor pasti udah kempes abis. Kan saya dokter sepeda, he he he,’’ terang tukang bengkel sambil berkelakar.
‘’Percaya, Pak. Ya sudah berarti cukup dipompa aja ya Pak.’’

‘’Iya, dipompa aja (ban) depan-belakang, cukup. Kalau nggak dipakai dan ban sepeda kedinginan, anginnya emang kabur, he he he,’’ bercanda dia.
Sebentar kemudian, cess, cess, cesss, kelar deh.
‘’Ini, udah selesai, Pak,’’ kata tukang bengkel sambil menyerahkan sepeda yang siap dinaiki.
Sesuai ‘’harga pasaran’’, untuk jasa tambah angin dari kompresor Rp 1000/ban maka saya angsurkan kepadanya selembar uang Rp 2000. ‘’Nih, Pak, makasih banyak ya,’’ kata saya.
‘’Sama-sama,’’ katanya sambil menerima uang itu.
Eh, lha kok uang bukannya dikantongi, tapi dia selipkan ke lubang kotak kayu mirip kotak amal yang ditaruh tepat di atas mesin kompresornya.
Wah, saya jadi kepikiran nih. Kayaknya kurang ya, sehingga dia ‘’buang’’ ke kotak amal aja uang tersebut.
Dalam perjalanan pulang, saya merasa bersalah. Semestinya mungkin harus memberi lebih dari Rp 2000, karena jasa dia bukan sekadar menambah angin tapi juga menganalisa kondisi ban sehingga nggak perlu ditambal apalagi ganti ban dalam[1].
Saya sampai kepikiran kata-katanya ‘’Kan saya dokter sepeda’’. Saya membandingkan, setiap mendiagnosa pasien, dokter manusia akan tetap menerima bayaran yang cukup gede, walaupun si pasien tidak sakit apa-apa. Jadi, saya merasa bersalah, telah memberi terlalu sedikit, sehingga uang dari saya ‘’hanya’’ dimasukkan ke kotak amal[2].
Sampai di depan rumah, Saffana langsung menyambut sepedanya dengan hati berbunga.
‘’Horee, lho Pah kok cepet banget nambalnya,’’ seru dia.
‘’Iya, kata tukang tambal ban, nggak bocor jadi cuman dipompa.’’
‘’Ooo.’’
Langsung saja, Saffana menggowes sepedanya muter-muter komplek. Senengnya dia, karena sudah lama nggak naik sepeda. Dia pun sudah janjian sama temannya untuk bersepeda ke mushola buat sholat maghrib nanti.
Satu lagi sepeda Pixy milik Fatih juga kempes, tapi nggak banget-banget. Maka saya ajak Fatih ke tukang tambal ban dengan menaiki sepedanya, mengikuti papanya yang naik motor pelan-pelan.



[1] Dari hasil penelusuran seorang teman wartawan, ternyata ada tukang tambal ban yang curang. Bak air yang digunakan si tukang tambal ban untuk memeriksa kebocoran ban dalam, umumnya berisi air keruh dan kecoklatan. Ternyata, itu untuk menutupi ulah curang si tukang tambal ban. Mereka menyimpan paku atau benda tajam lain di bak tersebut, yang akan digunakan untuk menjahili ban dalam konsumen sehingga bocor berat dan harus ganti ban di situ juga.
[2] Lucu ya, uang Rp. 50,000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal Masjid atau Musholla, tapi begitu kecil bila kita bawa ke Supermarket. Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa singkatnya waktu itu untuk pertandingan sepakbola. Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film bioskop. Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tetapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman. Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya. Lucu ya, orang-orang berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut saf paling belakang bila Jum’atan agar bisa cepat keluar. Lucu ya, kita perlu undangan pengajian 3 ~ 4 minggu sebelumnya agar bisa disiapkan diagenda kita, tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika.Lucu ya, susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip. Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan Koran atau TV, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al-Qur’an. Lucu ya, semua orang penginnya masuk Surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara, ataupun melakukan apa-apa. Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan jokes lewat E-mail, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua kali (anonymous).

0 komentar:

Posting Komentar