Kamis, 10 November 2011

Zakat di zaman Rosulullah

Mungkin diantara kita ada yang bertaya … Bagaimana pelaksanaan Zakat di masa Rasulullah..? apakah sudah ada kewajiban zakat pada masa itu. Karena bisa jadi agak berbeda termasuk semangatnya juga sudah beda… Dulu yang memberikan motovasi langsung Rasulullah…
Pada saat Rasulullah SAW masih berada di Makkah dalam rangka melakukan pembinaan akidah dan keyakinan umat, Ayat-ayat tentang zakat sudah diturunkan kepada beliau, misalnya QS. 30: 39 dan QS. 51: 19.

Ayat-ayat itu berisikan seputar penyadaran kepada umat bahwa pada setiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang membutuhkan, misalnya untuk fakir miskin. Juga berisikan penyadaran dan dorongan kuat untuk berzakat. Sebab, zakat itu meskipun kelihatannya mengurangi harta kita, akan tetapi justru hakikatnya akan menyuburkan, menambah, mengembangkan, dan memberkahi harta serta menyucikan jiwa kita.

Pada periode Madaniyyah ayat-ayat tentang zakat sudah terinci meliputi antara lain: rincian tentang golongan yang berhak (mustahik) zakat (QS. 9: 60), zakat itu di samping diserahkan langsung oleh muzakki (orang yang berzakat) atas dasar keikhlasan dan kesadarannya zakat juga harus diambil oleh para petugas yang dikhususkan untuk melakukan kegiatan tersebut (QS. 9: 130), dan diuraikan pula beberapa komoditas yang termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi (nisab, persentase zakat, waktu pengeluarannya).

Zakat pertanian, tumbuhan, dan hasil tanaman (QS. 6: 141), zakat emas dan perak (QS. 9: 34-35), zakat peternakan (al-hadits), zakat barang temuan (a-hadits), zakat perdagangan (al-hadits), dan zakat hasil usaha (QS. 2: 267).

Pelaksanaan zakat di zaman Rasulullah saw dan yang kemudian diteruskan para sahabatnya yaitu para petugas mengambil zakat dari para muzakki, atau muzakki sendiri secara langsung menyerahkan zakatnya pada Baitul Maal, lalu oleh para petugasnya (amil zakat) didistribusikan kepada para mustahik.

Pada zaman sekarang pun sesungguhnya inti dan substansi zakat itu tidak ada yang berubah dan memang tidak boleh berubah. Hanya saja diperlukan penafsiran kembali tentang beberapa hal yang berkaitan zakat sesuai dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan umat.

Dalam melakukan penafsiran kembali tetap harus berlandaskan pada kaidah-kaidah yang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya melalui qiyas (analogi). Beberapa hal yang perlu mendapatkan penafsiran kembali antara lain:

Pertama, kriteria mustahik zakat, misalnya pada asnaf sabilillah. Jika zaman Nabi Muhammad dan para sahabat yang termasuk pad asnaf ini adalah para sukarelawan perang yang tidak memiliki gaji tetap.

Pada saat sekarang, bolehkah atas nama asnaf ini dimasukkan pembangunan sarana ibadah, sarana pendidikan, perpustakaan, sarana kesehatan, training para dai', dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembangunan kekuatan umat? Mayoritas ulama berpendapat boleh, sebagian lagi menyatakan tidak boleh.

Kedua, harta objek zakat. Apakah hanya terbatas pada objek-objek zakat yang sebagaimana terdapat di zaman Nabi ataukah boleh dikembangkan. Misalnya di zaman Nabi peternakan hanya tiga macam: unta, sapi, dan kambing/domba.

Bagaimana halnya dengan peternakan ayam, itik, dan lain sabagainya dan juga profesi-profesi yang di zaman Nabi tidak ada tapi sekarang bermunculan dan sangat beragam. Ternyata bila dilihat dalam nash-nash yang bersifat umum, seperti dalam QS. 9: 103 dan QS. 2: 267, maka semua harta yang belum ada contohnya di zaman nabi menjadi ''harta yang bernilai'', maka jika memenuhi syarat wajib zakat, harus dikeluarkan zakatnya.

Ketiga, aspek pengelolaan. Jika dahulu hanya ditekankan pada pembagian yang bersifat konsumtif, kini perlu ditekankan pada pembagian yang bersifat produktif, meskipun tetap memperhatikan aspek konsumtif. Wallahu'alam

0 komentar:

Posting Komentar