Selasa, 20 September 2011

Surat Terbuka untuk Para Amilin; Amil pun Harus Banyak Bersedekah

... Siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menyediakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sungguh, Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’’ (QS At Thalaaq: 2-3).

Amilin (pengelola zakat), adalah profesi terhormat yang disebut dalam Al Qur’an. Allah SWT berfirman: “Sungguh, zakat hanyalah untuk orang fakir, miskin, pengelola zakat (amilin), muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang terlilit utang (gharimin), untuk jalan Allah (sabilillah), dan orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS at Taubah: 60).

Banggalah wahai para amilin, karena Anda seprofesi dengan Umar bin Khattab ra yang menjadi amilin di jaman Rasulullah SAW. Dan ketika Umar menjadi Khalifah, beliau memiliki amilin bernama Ibnus Sa’dy Al Maliki.

Tapi, bersamaan dengan itu, amilin merupakan salah satu dari 8 asnaf (golongan) yang berhak atas dana zakat. Walaupun amilin enggan menerimanya, perasaan itu tak mengurangi statusnya sebagai salah satu sasaran distribusi zakat.

Ibnus Sa’dy Al Maliki, contohnya. Beliau ikhlas lillahi ta’ala mengelola sedekah tanpa mengharap apalagi meminta honor. Tapi, ia ‘’dipaksa’’ Khalifah Umar untuk menerimanya.
Busr bin Sa’ied menuturkan bahwa Ibnus Sa’dy Al Maliki pernah berkata, ‘’Umar pernah mengangkat aku untuk mengurus zakat (amilin). Setelah selesai kuurus dan kuserahkan padanya, dia mengirimi aku upah. Maka kukatakan, ‘Sungguh, aku melakukan tugas ini karena Allah’. Kata Umar, ‘Ambillah yang telah diberikan kepadamu. Sungguh, aku dulu pernah menjadi amil Rasulullah SAW, maka beliau memberi upah tugas itu...’’

Maka, jika amilin hanya piawai mengumpulkan zakat dan menerima upahnya, itu berarti dia berkubang diri dalam kemustahikan. Sebagai mustahik dia memang berhak menerima bagian zakat, tapi apakah dia rela selamanya menjadi mustahik. Tidakkah tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah?
Karena itu, para amilin pun harus berzakat serta banyak bersedekah. Seperti Ibnus Sa’dy Al Maliki tadi, setelah dengan berat hati menerima honor sebagai amilin, dia sedekahkan sebagiannya sebagaimana pesan Rasulullah SAW.
Mengutip penuturan Busr bin Sa’ied, setelah Ibnus Sa’dy Al Maliki menolak upahnya sebagai amilin maka Khalifah Umar berkata, ‘’Sungguh, aku dulu pernah menjadi amilin Rasulullah SAW, dan ketika beliau memberiku upah untuk tugas itu, maka kukatakan kepada beliau seperti yang kau katakan tadi. Maka Rasulullah berkata kepadaku, ‘Bila engkau diberi sesuatu yang tidak kau pinta, maka makanlah dan sedekahkanlah‘’ (HR Bukhari dan Muslim).

Teringat kisah Rasulullah yang merupakan kebiasaan beliau jika ada sahabatnya meninggal dunia, beliau selalu menyempatkan untuk bersilaturrahim kepada keluarganya. Suatu ketika Rasulullah bersilaturrahim kepada keluarga sahabat usai pemakaman. Kepada istri sahabatnya itu beliau bertanya. ”Adakah wasiat suamimu sebelum meninggal, “tanya Rasulullah. “Ada tiga ya Rasul, namun semuanya saya tidak paham apa maksudnya” jawab istrinya. Yang pertama; Andai lebih jauh. Kedua; Andai yang baru. Ketiga; Andai semuanya.

Kemudian Rasulullah menjelaskan arti wasiat tersebut. Ternyata Allah memberikan gambaran kepada manusia menjelang ajal, betapa luar biasanya balasan atas amal sholeh dan perbuatan baik selama di dunia. Suatu ketika sahabat ini berjalan menuju masjid, ditengah jalan ada seorang kakek tua yang tertatih-tatih menuju masjid, kemudian beliau menolongnya, namun jarak menuju masjid tidak jauh lagi. Menjelang ajal Allah memperlihatkan balasan menolong orang tua tadi, sehingga menjelang sakaratulmaut beliau berucap, “Andai lebih jauh”. Andai jarak ke masjid lebih jauh, sehingga beliau bisa menolong kakek tua tadi lebih jauh, maka pasti Allah akan membalas dengan balasan yang jauh lebih baik lagi.

Kemudian suatu ketika beliau melakukan perjalanan menggunakan onta, di jalan sahabat ini bertemu dengan seseorang yang kedinginan, kemudian beliau turun dari ontanya dan mencopot baju hangatnya yang sedang dipakai, dan dipakaikan kepada orang yang sedang kedinginan itu. Sedangkan beliau mengambil baju hangat yang baru di perbekalan yang ada di ontanya untuk dipakainya. Menjelang ajal, Allah memperlihatkan balasan yang baik atas memberikan bantuan baju hangat bekasnya itu, lalu beliau berucap, ”Andai yang baru” yang diberikan kepada orang yang sedang kedinginan itu, pasti Allah akan membalas dengan balasan yang jauh lebih baik lagi.

Suatu ketika sesampai di rumah setelah malakukan perjalanan jauh, beliau disiapkan roti oleh istrinya untuk makan malam. Disaat roti sudah siap disantap, tiba-tiba ada tamu yang mengetuk pintu, ternyata tamunya adalah seorang janda dan anak yatim yang membutuhkan makanan. Sahabat ini kemudian memotong rotinya menjadi dua bagian, yang setengah diberikan kepada janda dan anak yatim, yang setengahnya lagi dimakan. Kemudian menjelang ajal Allah memperlihatkan balasan yang baik dari apa yang telah diperbuatnya memberikan sepotong roti, kemudian beliau berucap,”Andai semuanya”. Andai semua roti yang diberikan kepada tamunya, pasti Allah akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik. Subhanallah. Sabahat ini telah berbuat baik namun menyesal karena belum maksimal dalam bersedekah.

Jika amilin hanya menerima gaji atau upah saja, maka keberkahan akan kurang dapat dirasakan. Sebagian besar amilin Indonesia gajinya kecil, sulit mencukupi kebutuhan keluarga, sulit membeli rumah, sulit menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berkualitas, dan sederetan permasalahan yang menghimpit layaknya para pekerja lainnya yang gajinya tak seberapa.

Ada kisah pribadi yang mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi. Suatu ketika, hasrat untuk bersedekah luar biasa. Melihat ada komputer pentium 2 yang ada di rumah, rasanya gatel untuk segera digeser atau disedekahkan. Pada sebuah rapat masjid di kawasan perumahan di parung. Pengurus masjid menyampaikan bahwa masjid butuh komputer untuk membuat surat dan proposal-proposal kegiatan.

Waktu itu saya kepikiran komputer dirumah. Saya melihat komputer yang ada dirumah akan lebih manfaat jika digeser ke masjid. Usai sholat subuh sehari kemudian, setelah mendapatkan ijin dari istri dan anak-anak, saya pindahkan secara diam-diam komputer yang ada dirumah ke masjid dekat rumah. Saya bawa satu persatu mulai dari monitor, PC, mouse, kayboard dan sound serta meja dan kursinya sekalian. Bahkan saya juga tidak menyampaikan kepada pengurus masjid lainnya bahwa saya mau serahkan komuter ke masjid. Hari itu juga ba’da magrib pada saat para pengurus berjamaah di masjid sepulang dari tempat kerja, mereka kaget melihat ada komuter di sekretariat masjid. Mereka berbisik, komputer siapa ini. Sayapun diam saja. Akhirnya mereka pun tahu bahwa komputer tersebut dari saya.

Selang seminggu saya mendapatkan sms dari sahabat saya bahwa saya diminta untuk menemuinya di sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Karena waktunya pas sekali posisi nggak terlalu jauh, kemdia saya menemui beliau disana. Subahanallah, ternyata beliau sudah membawakan saya sebuah laptop kemudian beliau sampaikan,”San, ini buat kamu”. Kemudian saya lihat dan ternyata isinya bener-bener laptop. Serasa mimpi baru seminggu yang lau sedekah komputer, ternyata Allah mengganti dengan laptop. Sebulan kemudian saya menyapa beliau dengan sms, lagi-lagi menyampaikan terima kasih atas pemberian laptopnya yang begitu manfaat buat saya.

Ada jawaban yang mengejutkan disaat sahabat saya ini menyampaikan,” Emangnya saya pernah kasih laptop ke antum...?” saya kira pertanyaan itu bercanda, dan ternyata memang beliau tidak pernah merasa memberikan laptop ke saya. ”Subhanallah, lha yang kemaren kasih laptop saya itu siapa ya...?” Tanya saya sampai hari ini.

Ini merupakan salah satu cerita yang tentunya masih banyak cerita lain yang saya alami bahkan jauh lebih luar biasa lagi tentang bagaimana Allah menyempurnakan rizki melalui keajaiban sedekah. Diantara kisah lainnya yaitu tawaran menjadi dosen, tentang hadiah BB, mobil, rumah baru bahkan Allah juga memberangkatkan saya ke tanah suci. Semua karena keajaiban sedekah.


Banyaknya Lembaga Amil Zakat di Tanah Air, hanya belasan yang statusnya sudah LAZ Nasional. Itu pun, tak semuanya mampu menggaji amilin secara memadai. Apalagi bagi lembaga pengelola zakat yang baru tumbuh, masih sulit memberikan imbalan yang layak bagi para amilin-nya.

Jika paradigma berpikir amilin masih mematok gaji sebagai satu-satunya pintu rezeki, niscaya dia belum bisa menikmati keberkahan profesinya. Ingatlah, rezeki bukanlah hanya gaji semata, namun juga berupa keberkahan, merasa kecukupan, ketenteraman hati, keyakinan dan kesempatan beribadah bahkan rizki lain dari arah yang tak terduga-duga. Nikmat ini semua akan terasa apabila amilin terus mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan dalam setiap waktu serta berani mengorbankan harta terbaiknya untuk bersedekah. Insya Allah dia akan beroleh pengganti yang berlipat ganda.


Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui’’ (QS Al-Baqarah: 261).

Melalui kuliah online ini, saya mengajak para amilin jangan hanya pandai mengajak orang untuk bersedekah sementara dia sendiri tidak bersedekah atau hanya sedikit saja. Jika kita mau dicukupkan rezeki, maka berbagilah; Jika kita mau dimudahkan urusan, maka mudahkan urusan orang lain.

Mari kita menjadi pelaku sedekah, agar kita dapat merasakan’’keajaiban sedekah’’ itu. Wallahu’alam bissawaab.


1 komentar:

Yayasanputrakarawang mengatakan...

Subhanalloh...
Kisah yang indah dan banyak manfaat untuk kami pelajari...
Afwan,kami sangat bahagia bila Afwan mau membantu membimbing kami,meski lewat pesan dan pelajaran
semoga Allah membalas kebaikan Afwan sekalian.
Terimakasih.
Wassalam
Mahar Kurni / Ketua /085885677299
email : yayasan.putrakarawang@gmail.com

Posting Komentar