Minggu, 11 September 2011

LIVE TO GIVE

Satu jadi dua, dua jadi empat, begitu seterusnya. Apapun yang ditekuni Ustadz M. Anwar Sani berlipat ganda di tangannya. Baginya syukur kepada Allah-lah, yang menjadikannya direktur dari dua lembaga. Jabatan yang ti­dak pernah dilamar sebelumnya.

Mengalir seperti air, kata-kata yang selalu dipilih Ustadz Mu­hammad Anwar Sani setiap mengawali cerita hidupnya. Me­mang seperti itulah jalan hidup Direktur Yayasan Al Azhar Peduli Umat (AAPU) ini, tidak pernah sebelumnya terpikir olehnya menjadi seorang pemimpin atau pengajar ma­hasiswa. Tapi itulah karunia yang diterima Dosen Universitas Al Azhar di fakultas Ekonomi untuk mata kuliah zakat kelahiran 18 Agustus 1976.

Karunia yang didapat dengan bersyukur dan kerja keras. Kerja keras yang dimulai se­jak pertama kali menginjakkan kaki ke Ibu kota. Tantangan hidup di Jakarta tidak pernah menjadi halangan buat putra asli Blora Jawa Tengah ini, selalu saja menjadi petualangan ke­cil. Macam-macam profesi ‘rendahan” pernah dijalaninya dengan bangga, demi membiayai kuliah dan makan sehari-hari.

Profesi yang dianggap orang pekerjaan rendahan seperti kurir, sales, bahkan menjadi pengumpul rekening listrik tetangga. Praktek mata kuliah ‘menerima complain’ menjadikannya mahir dalam urusan berinteraksi dengan orang. Dari profesi-profesi tersebut, anak no­mor dua pasangan Abdul Rahman dan Masnu­atun Nafsiah ini mendapat kuliah setara S-2, hingga dirinya didaulat untuk mengajar mata kuliah zakat di Fakultas Ekonomi Al Azhar.

Pelajaran yang tidak pernah didapat dari kuliah manajemen perbankan syariah. Ilmu zakat justru didapatnya dari praktek langsung sebagai relawan di sebuah badan zakat. Dari situlah sentuhan dengan dunia fund raising membawanya ke jenjang lebih tinggi. Pria 34 tahun ini telah mengubah pandangan orang tentang zakat.

Paradigma orang miskin yang butuh se­dekah, bergeser 360 derajat, sekarang orang kaya-lah yang butuh sedekah. Jurus-jurus menghimpunkan fulusnya tidak hanya mengumpulkan recehan. Miliaran rupiah telah berhasil dikumpulkannya dari Al Azhar Peduli Umat. Sedikit ilmunya dapat kita curi dari seki­las wawancara dengan suami dari Henita Sary dan ayah dua orang putra, M. Fatih, 10 tahun dan Taffani Sani, 7 tahun, berikut ini.

MENGHIMPUN FULUS

Anda meluncurkan buku “Meng­himpun Fulus: Manajemen Zakat Ber­basis Masjid”. Bisa Anda jelaskan apa yang ingin Anda sampaikan melalui buku tersebut?

Saya menulis buku ini karena saya ingin sekali memotivasi masjid-masjid di Indonesia dengan memaksimalkan perannya, tidak hanya jadi tempat sholat saja. Tapi peran sosialnya juga harus jadi salah satu kegiatan besar­nya mesjid itu sendiri.

Apa saja yang Anda lakukan?

Saya sekarang memberikan moti­vasi kepada lembaga-lembaga zakat yang baru muncul juga masjid-masjid jangan hanya memanfaatkan momen Ramadhan saja untuk mengumpul­kan dana zakat, dan mereka biasanya tunggu bola, tidak jemput bola. Saya punya misi, punya mimpi, bagaimana masjid-masjid di seluruh Indonesia ini tergerak untuk mau melakukan gera­kan sosial. AAPU sekarang sudah pu­nya sekolah, poliklinik, ambulans, dan Rumah Gemilang Indonesia. Kalau itu hanya kita manfaatkan buat kita sen­diri, maka jadi kita sendiri saja. Saya ingin sekali Rumah Gemilang Indone­sia, menjadi inspirasi buat Indonesia.

Paradigma orang miskin yang butuh sedekah, bergeser 360 derajat, se­karang orang kaya-lah yang butuh sedekah. Begitu menurut Anda?

Frame masyarakat memang ma­sih orang miskin yang butuh zakat, karenanya kita harus membantu. Tapi paradigma itu sudah waktunya harus kita ubah. Sebetulnya yang butuh zakat adalah kita sendiri, sedangkan orang miskin adalah pe­nerima manfaat zakat. Kenapa kita yang perlu menzakatkan harta kita karena bila harta tidak dizakatkan, akan kotor.

Bagaimana Anda melakukannya?

Dari saya menyampaikan, saya harus belajar menjadi motivator. Motivator biasanya kan motivator semangat, manajemen, dan moti­vator bekerja yang baik. Kalau saya motivator zakat, tema dakwah saya itu motivasi zakat atau disebut Moza. Yang saya lakukan bagaimana menggerakkan orang untuk ber­zakat atas kesadaran sendiri. Zakat itu penting bagi dirinya sendiri bah­kan dengan memahami zakat maka mengeluarkan zakat akan menjadi ringan.

Cara yang Anda tempuh dalam me­numbuhkan sedekah di kalangan muda?

Tanamkan rasa cinta pada zakat dan sedekah. Setelah menjalani me­mang belum dapat balasan dari Al­lah. Untuk itu kita harus yakin bahwa zakat dan sedekah yang ditunaikan pasti dibalas Allah. Tinggal lagi wak­tunya. Karenanya, selalu harus ber­prasangka baik kepada Allah.

Sekarang banyak bermunculan lembaga atau perkumpulan yang mengatas-namakan kegiatan so­sial, dan “berlomba” mendapatkan donatur. Anda sendiri punya cara khusus meyakini donatur?

Itulah yang saya tulis dibuku Menghimpun Fulus ini. Ada empat jurus menghimpun fulus, bagaimana orang yakin dengan lembaga kita, bahwa ini tersalur dengan baik.

Pertama, kita membuat program yang bagus. Kalau kita lembaga sosial biasa-biasa saja, maka me­reka bisa menyalurkan sendiri. Maka kalau kita menawarkan program-program yang menarik insya Allah mereka percaya dengan kita.

Kedua, menyentuh hatinya donatur. Kadang-kadang orang kaya baru berzakat bila melihat orang miskin, atau bila ada pro­gram baru berzakat. Sebenarnya tidak begitu, konsep dalam Islam adalah orang kaya butuh zakat, orang miskin itu hanya penerima manfaat zakat.

Ketiga, kita bermitra dengan pe­rusahaan. Artinya kalau masyarakat sudah percaya dengan kita, maka kita bisa juga jadi mitra strategisnya CSR (Corporate Social Responsibili­ty) suatu perusahaan. Atau, kan juga ada prusahaan yang tidak puna tim CSR sendiri. Nah, melalui program AAPU, bisa kita rencanakan atau bersinergi membuat, merencanakan program-program yang bagus.

Keempat, kita memberikan pelayanan yang baik untuk do­natur siapa pun, baik perusahaan maupun individu. Kita memberikan pelayanan yang ramah, kemudahan membayar transaksinya, kemudian laporan pertanggung- jawabannya juga jelas, dan diperiksa oleh akun­tan publik.

Anda getol berkampanye zakat. Kenapa tertarik pada pengumpulan zakat?


Semuanya mengalir saja. Awalnya pada 13 tahun lalu, saya sudah di dunia zakat. Saya dulunya rela­wan Dompet Dhuafa, pekerjaan saya berawal dari sebagai menyebarkan brosur, pasang spanduk hingga menempelkan ajakan berzakat. Lalu meningkat menjadi direct sales. Menjadi relawan kurban pun pernah saua jalani. Tahapan-tahapan pem­belajaran saya. Tujuh tahun di sana, saya bergabung dengan Al Azhar Peduli Umat. Yang saya lakukan dari nol, presentasi di sekolah-sekolah Al Azhar, perusahaan-perusahaan, lalu bikin proposal sendiri, dan bernegoisasi sendiri. Tapi itu tidak semua berjalan mulus, sering juga ditolak. Tapi saya yakin penolakan itu ada batasnya. Dan alhamdulillah tantangan itu terjawab. Dari tahun pertama berjalan dengan kesulitan-kesulitan dan penolakan-penolakan, terhimpun dana Rp. 1,2 miliar di ta­hun pertama, tahun kedua mening­kat menjadi Rp. 2,7 miliar, terus me­ningkat hingga tahun kelima, 2009 lalu, terhimpun Rp. 11,6 miliar. Tahun kita target Rp. 20 miliar

Sedangkan untuk diri saya, alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan dan berkah luar biasa bagi saya. Kesemua mengalir begitu saja. Saya tidak mimpi men­jadi direktur dan dosen, tetapi saya memperoleh itu.

Menurut Anda, untuk mencegah penyelewengan di lembaga zakat, apa yang perlu dilakukan?

Ikhtiar yang kami lakukan, untuk setiap program sesuai dengan fiqih-nya, artinya tidak menyalahi aturan agama. Untuk itulah kita mempunyai Dewan pertimbangan Syariah, agar program-program yang digulirkan mendapat legitimasi. Kemudian di internal ada Dewan Pengawas yang bertindak mengawasi keuangan, di­tambah auditor akuntan publik. Dari sanalah laporan keuangan AAPU di­umumkan melalui media masa.

Ngomong-ngomong, judul buku Anda tentang menghimpun uang diberi judul “Fulus”?

Biar eye cathching itu benar. Kalau orang bicara uang bicara fulus imejnya langsung ke uang.

Bisa bercerita tentang Rumah Gemilang Indonesia yang Anda kelola?

Di sana ada training center yang besar sekali, buat anak-anak dhuafa,anak-anak yang tidak bisa berse­kolah. Kita mengajarkan fotografi, menjahit, videografi, desain grafis. Seperti sekolahan saja, mulai dari pagi jam 7.30 hingga jam 15.30 WIB. Mereka sholat dhuha bersama, kami mengajarkan mereka mengaji.

Mereka pun disalurkan ke tempat-tempat kerja?

Tentu kita menyalurkan. Seka­rang sudah kurang lebih 60 persen lulusan Rumah Gemilang Indonesia yang sudah terserap kerja. Kita juga membuat link-link tapi kese­mua kembali kepada diri mereka sendiri. Memang ada di antaranya siap kerja tapi mental tidak kuat, lalu kembali lagi ke Rumah Gemi­lang Indonesia. Jadi kita tidak bisa menjamin kesuksesan itu, mereka juga yang menentukan. Setidaknya kita sudah membekali ilmu.

LIVE To GIVE

Menjadi Motivator Zakar, Ustadz termasuk direktur dan dosen, me­rupakan impian Anda?

Saya tidak punya cita-cita khu­sus, termasuk tidak bercita-cita menjadi ustadz. Hidup saya menga­lir saja.

Apakah ini bias dibilang sebuah mimpi dalam sebuah kenyataan?

Saya tidak terbayang bisa se­perti sekarang ini. Kesemua karena Allah. Terlebih bisa public speaking ternyata Allah menghadirkan itu. Jadi Alhamdulillah SubhanAllah mimpi-mimpi saya dulu yaitu ingin kerja keras dan yakin akan keten­tuan Allah waktu itu, hadir dalam hidup saya.

Cita-cita Anda sendiri, sebenarnya apa, ya?

Inginnya bekerja di bank syariah karena itu saya kuliah di Syariah Banking Institute. Tapi drop-out di tengah jalan akibat orang tua maupun saya tidak bisa membiayai. Beberapa tahun kemudian barulah saya melanjutkan pendidikan lagi di Universitas Islam Nasional (UIN), fakultas Dakwah untuk jurusan Ko­munikasi & Penyiaran Islam. Itupun bukanlah karena saya bercita-cita menjadi da’I, semuanya mengalir sesuai ketentuan Allah.

Masih ingat ceramah pertama, dan bagaimana rasanya?

Tentang zakat, dan saya men­galami , demam panggung. Saat itu saya berdoa kepada Allah agar mulut saya dapat meyampaikan kata-kata dengan lancar. Allah ha­dirkan itu, saya pun tidak ragu lagi. Berikutnya saya sering ceramah di radio dan TV.

Untuk penampilan sebagai ustadz, bisa Anda katakan siapa orang yang berjasa?

Di antaranya adalah ustadz Mansyur, telah memberi banyak du­kungan, dorongan dan kesempatan pada saya untuk tampil.

Wah jadi orang tenar dong, bagai­mana rasanya?

Tidak mimpi menjadi orang te­nar. Ini mengalir saja. Umpama pun menjadi orang tenar, apapun yang kita sampaikan bisa ditiru, diyakini sebagai sebuah kebenaran. Kalau ketenaran bisa untuk menyampai­kan hal-hal yang positif, memberi inspirasi untuk banyak orang, dan mendorong orang untuk berbuat baik, kenapa tidak?

Arti hidup?

Punya nilai manfaat bagi orang lain. Semisal mengajak teman sholat tahajud melalui sms. Sesederhana itu saja. Allah memberi pahala bagi yang mengajak, dan pahala bagi yang menjalani, Ini merupakan MLM kebaikan yang luar biasa.

Kata kunci Anda dalam hidup?

Bersyukur. Mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan menambah kemudahan jalan kita, tentu ala Al­lah. Selalu berprasangka baik dan yakini bahwa selama kita terus bergerak maka Allah menyempur­nakannya. Keyakinan itulah yang semakin mendarah daging pada diri saya.

Anda dikenal sebagai pendakwah penghimpun fulus. Arti uang bagi Anda sendiri?

Harta itu titipan Allah yang tidak bisa kita bawa mati. Harta memang membuat kesenangan tapi harta itu harus kita bagi.Dan sedekah konsep Allah dan manusia itu berbeda. Kon­sep manusia, semakin sering mem­beri maka uang makin habis. Tapi bersedekah atas nama Allah, maka Allah semakin banyak memberi.

Bisa beri contoh, atau mungkin pu­nya pengalaman pribadi yang ber­kaitan dengan bersedakah ini?

Tahun 2004 itu saya beringinan memiliki sebuah mobil. Lalu saya pun membayar uang muka, yang hasil dari utang. Dan cicilan mobil, saya minta paling lama. Agar cicilan terbayar, mobil pun saya sewakan. Tapi, cicilan mobil tidak selalu mulus, saya tertatih membayarnya karena penyewa sering telat membayar. Belum lagi, mobil saya pernah hilang selama dua bulan oleh penyewa. Saya dibuat pusing karena cukup berat mencicilnya. Tidak tahan den­gan masalah cicilan, saya sampaikan hal ini kepada ustadz Mansyur. Hasil diskusi, ustadz Masyur bilang, cara saya mencicil itu cara lama. Kalau mau lancar, mobil harus disedekah­kan. Ucapannya tentu bikin saya terkejut. Bagaimana mungkin mobil yang saya cicil dengan susah payah itu disedekahkan? Yang benar saja. Tapi katanya lagi, Allah yang akan membayar. Saya tambah terkejut. Saya tahu konsep sedekah, tapi kan tidak begini-begini amat deh.

Tapi akhirnya mobil saya sede­kahkan jua, ke sebuah pesantren. Itulah sedekah terbesar saya yang pernah saya lakukan. Tapi semenjak itu rezeki saya berkecukupan. Cicilan selalu teratasi dan ada saja jalannya. Yang tidak saya sangka, ada orang Freeport melihat keberhasilan mana­jemen AAPU, lalu meminta saya pin­dah ke sana untuk mengelola lem­baga zakat Freeport. Saya ditawari gaji tinggi plus fasilitas memadai. Tapi pengurus AAPU menahan saya dan gaji saya dinaikan 80 persen. Cicilan mobil makin lancer, bahkan saya mendapat mobil dari AAPU.

WANITA DI KEHIDUPAN

Anda menikah di usia terbilang belia, 23 tahun. Dan, belum pula mapan. Boleh tahu alasannya?

Pesan guru saya, kalau mau kaya harus menikah. Alhamdulillah, calon pun ada. Seorang wanita cantik, berjilbab.

Cantik menurut Anda?

Fisik bagus, akhlak pun baik serta berkerudung. Selebihnya beriring bersama.

Agar hubungan dengan pasan­gan terus seiring sejalan, ada konsepnya?

Menerapkan konsep syukur dan sabar. Kalau kita mengi­kuti hawa nafsu, semisal ada kesalahan dari pasangan kita dan dipermasalahkan maka itu tidak akan ada habisnya. Setiap orang punya masalah. Karenanya, yakinlah memilih dia sebagai pasangan meru­pakan keputusan terbaik. Bersyukur, sekalipun pasangan kita memiliki kekurangan maka kita harus menjadi orang yang bersyukur. Bersabar, bila ada yang tidak menyenangkan dari pasangan kita maka kita kita harus bersabar. Itu adalah ujian Allah. Jadi konsep syukur dan sabar harus men­jadi satu untuk menjadi kekuatan dalam membentengi diri kita. Baik dan buruk sifat itu suatu anugerah dan itu keputusan terbaik dari Allah.

Hmmm, wajah Anda cukup tampan,masih muda dan pandai. Pernah ada wanita yang “nekat” menyatakan cinta pada Anda?

Beberapa memang ada yang bertanya apakah saya lajang atau sudah berkeluarga? Hehehe..., saya bilang telah berkeluarga.

Pandangan Anda tentang poligami?

Insya Allah tidak saya lakukan walaupun dibolehkan oleh agama. Buat saya poligami itu sangat berat, tidak hanya berat oleh istri tetapi su­ami. Walau istri menyetujui suaminya berpoligami tapi tetap saja itu tidak demikian. Betapa sulitnya menata hati yang diduakan. Untuk saya sen­diri, lebih baik energi kita digunakan untuk kegiatan yang lebih positif.

Keinginan yang masih mau dicapai?

Mengalir saja. Jadi tidak ingin apa-apa. Saya terlalu malu kalau minta banyak kepada Allah. Ka­dang kita ego, minta ampun dan rezeki untuk diri sendiri. Semestinya meminta juga untuk orang lain, lebih sering mendokan untuk kesuksesan orang lain dan minta dimaafkan, dengan begitu akan berlimpah ke­baikan untuk kita.

Sumber: http://www.measiaonline.com

1 komentar:

irwan abdurachman mengatakan...

Alhamdulillah, sangat inspiratif. Memotivasi. Smoga akan lahir orang2 seperti ustadz yang peduli umat.

Posting Komentar